18
Jan

Petruk sekolah

Malam itu (16.01.09), kami (PPI Kiel) mendapat undangan makan malam dari DIG (perkumpulan Indonesia Jerman) yang ada di kota Kiel. Sebagai bentuk penghargaan, kami pun sepakat untuk menampilkan cerita wayang dalam pertemuan tersebut. Kami beruntung karena memiliki teman berinisial AW yang bisa menjadi dalang. Gw g menulis lengkap nama sang dalang, karena belum meminta izin saat menulis blog ini :)

Tokoh utama dalam cerita adalah Petruk, seorang tokoh punakawan dalam wayang jawa. Malam itu, sang dalang menceritakan tentang cita2 sang tokoh yang bermimpi untuk menjadi orang mulia. Untuk meraihnya, dia pun pergi untuk menuntut ilmu ke sebuah tempat bernama Kiel. Singkat cerita, Petruk pun berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Cumlaude.

Walau bekerja dengan persiapan yang mepet, script aja baru bisa gw selesain tanggal 16 pagi, kami bersyukur karena semuanya berjalan lancar.Gw jadi teringat dengan seorang nenek jerman yang pernah gw temui di stasiun kereta. Tiba2 dia menyapa dan menanyakan asal gw. Dan saat tahu klo gw adalah orang indo, dengan bangganya dia pun mulai bercerita tentang pengalaman dan kekagumannya akan Indonesia. Gw jadi mikir, klo orang asing aja bisa menghargai keindahan dan budaya Indonesia, masa sie orang aslinya enggak.

Sesuatu akan sering terasa berarti saat sesuatu itu tiada. Saat tinggal di negeri orang seperti sekarang, rasa bangga akan tanah air menjadi bertambah. Hingga pada suatu hari yang dingin, seorang kawan menyanyikan lagu “Tanah airku” dalam perjalanan pulang. Suaranya memang cempreng, tapi hal itu tidak mengurangi rasa yang terkandung di dalam syairnya:

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biar pun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau ku hargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Termashsyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan….(tanah air, cipt. Ibu Soed)

04
Jan

Antara teman dan friendster

„Dunia memang selebar daun kelor“, mungkin itulah pepatah (baru) yang sesuai untuk menggambarkan dunia yang sempit. Bukan dari segi ukuran, tapi bagaimana manusia yang tinggal di dalamnya terhubung satu sama lain. Saat anda bertemu teman baru di suatu tempat, walau berbeda negara sekalipun, jangan terkejut jika ternyata dia adalah temannya teman anda sebelumnya.

Pada awal tahun 1900an, seorang ahli sosial dari Hungaria berhipotesis bahwa jika kita memilih satu orang yang tidak kita kenal dari sekitar 6 milyar orang di bumi ini maka kita dapat terhubung dengannya tidak lebih dari 5 orang. Jadi jika anda membuat daftar teman2 anda dan seseorang nan jauh di sana melakukan yang sama, maka dia akan terhubung dengan anda tidak lebih dari 6 tingkat jaringan pertemanan. Ide ini kemudian diperkuat olehfilm six degrees of separation pada awal tahun 1990an oleh John Guare, dramawan Amerika. Dia juga berpendapat bahwa setiap orang di bumi terpisah hanya oleh 6 orang lain. Jaringan sosial inilah yang kemudian dikenal dengan six degrees of separation.

Jika anda memiliki akses dengan internet, anda mungkin tidak asing dengan yang disebut friendster. Friendster merupakan salah satu jaringan sosila di  dunia maya yang berdiri pada tahun 2002. Menurut mas wikipedia, website ini memiliki 90 juta pengguna, 90% diantaranta dari asis pasifik. Dua tahun kemudian, jaringan sosial lainnya yang bernama facebook berdiri, pengguna umumnya adalah para penutur asli bahasa inggris, saat ini memiliki 34 juta pengguna. Sebenarnta masih banyak website sejenis, tapi 2 website di atas adalah yang paling dominan dipakai di Indonesia.

Friendster dapat digunakan untuk mencari teman lama atau baru bahkan jodoh karena pada awalnya memang dibuat untuk dating. Jika tujuan anda seperti itu, status dan foto merupakan hal yang harus anda perhatikan. Tapi jangan dipercaya 100% karena profil pengguna tidaklah selalu benar atau dikenal dengan fakester. Terutama mereka yang termasuk tipe “pelaut” statusnya selalu single atau it’s complicated dengan alasan sibuk dan belum sempat dirubah :)

17
Nov

Insel Sylt

Insel Sylt adalah sebuah nama sebuah pulau paling utara di Jerman, merupakan salah satu tujuan wisata pada musim panas. Berbeda dengan Indonesia yang kaya dengan pulau2 yang indah, tak banyak pulau yang dimiliki Jerman sehingga mereka sangat memperhatikan pulau yang berbatasan dengan Denmark, di tepi laut utara ini. Di sini terdapat sebuah lembaga riset polar dan kelautan yang bernama Alfred Wegener Institut.

Alfred Wegener merupakan seorang meteorologis dan geologis yang memunculkan konsep continental drift, salah satu teori yang banyak dipakai dalam penelitian ilmu kebumian. Alfred Lothar Wegener lahir di Berlin (1880) dan meraih habilitation (jenjang karir untuk menjadi professor) di Universitas Marburg untuk bidang meteorologi dan astronomi pada usia 39 tahun. Dia meninggal saat melakukan ekspedisi di Greenland pada tahun 1930.

Selama 4 hari jurusan gw mengadakan field trip di Insel Sylt dengan dibimbing oleh professor dari Alfred Wegener Institut. Gw jadi ingat pas kuliah di Teknik Geologi dulu, hari minggu yang harusnya menjadi hari libur dipake untuk pergi ke lapangan bersama dosen dan asisten2nya. Pergi ke Merapi hingga pantai baron, cepu, pacitan dan daerah2 lainnya buat belajar di lapangan (sekalian jalan2 :).

Tidak terlalu beda dengan waktu ngambil S1 dulu, kerjaan lapangan banyak membutuhkan kondisi fisik yang baik. Medan field trip sebenarnya g seberat pas di indo, hanya saja angin laut utara yang dingin membuat gw harus menutup semua anggota tubuh kecuali muka. Selain itu, sarapan ala Jerman yang di dominasi oleh roti2 yang sekeras sandal jepit dan susu membuat gw gak bisa makan banyak karena sudah keburu eneg. Pokoknya makanan indonesia is the best dech.

Gw bersyukur mendapat teman2 yang berasal dari berbagai negara, 34 mahasiswa dengan 18 kewarganegaraan. Gw percaya gw g hanya akan mendapat ilmu environmental science aja, tapi juga belajar mengenal karakter dan budaya orang dari negara lain. Ada yang bermata sipit, berkulit hitam, berhidung mancung, berambut pirang dan tentunya sawo matang (ada 3 orang indo d kelas gw). Walau heterogen tapi gw yakin, kelas ini akan menjadi kelas yang kompak karena kuliah kami sebagian besar di lapangan.

05
Nov

Kampf zum weisse Haus

„Kita telah sampai pada akhir perjalanan panjang. Masyarakat Amerika telah memilih dengan jelas. Saya telah menghubungi Barrack Obama untuk memberi selamat kepadanya karena telah terpilih sebagai presiden negara yang sama2 kita cintai. Saya ikut bersimpati karena nenek tercinta beliau telah tiada dan tidak dapat menyaksikan momen ini. Dia pasti bangga dengan anak yang telah ikut dia besarkan.

Saya dan Obama telah banyak berargumen, banyak perbedaan yang masih tersisa. Ini adalah masa2 yang sulit bagi negara kita. Malam ini saya berjanji pada Obama untuk memberi tenaga saya untuk membantunya menghadapi tantangan yang kita hadapi. Saya meminta kepada semua orang amerika yang telah mendukung saya, bukan hanya sekedar memberikan ucapan selamat, tapi juga menawarkan bantuan yang tulus untuk menjembatani perbedaan yang ada, bersama2 memperbaiki kesejahteraan, menjaga ketahanan negara, dan mewariskan negara yang lebih baik bagi generasi penerus.

Adalah wajar jika malam ini kita merasa kecewa. Tapi besok kita harus bergerak dan bersama2 bekerja demi negara ini. Kekalahan ini adalah kekalahan saya, bukan kekalahan anda. Saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas semua yang telah anda lakukan buat saya. Saya tidak akan menyesali kekalahan ini, karena kepercayaan dan persahabatan anda jauh lebih berharga dari itu.

Malam ini, saya telah memberikan semua buat negara yang saya cintai dan warga amerika, baik yang mendukung saya ataupun senator Obama. Semoga Tuhan membimbing orang yang pernah menjadi lawan saya yang kini menjadi presiden saya. Amerika tidak akan pernah menyerah, kita tidak akan bersembunyi dari sejarah, kita yang menciptakan sejarah. Tuhan memberkati kalian dan Amerika, terima kasih!”

Kampf zum weisse Haus, dapat diterjemahkan sebagai Usaha menuju Gedung Putih. Pemilu yang berlangsung di negara Paman Sam ini selalu menghiasi pemberitaan di stasiun televisi di Jerman dalam beberapa bulan terakhir. Pagi ini (05.11.2008) Obama untuk sementara unggul dengan meraih 349 vs 163 dalam electoral votes serta 52% berbanding 46% dalam popular votes. Sistem pemilihan presiden di AS memungkinkan kandidat presiden meraih kemenangan walaupun kalah dalam dalam popular votes karena yang dihitung adalah electoral votes, minimal 270.

John McCain telah mengabdi selama bertahun2 bagi Amerika, pahlawan perang di Vietnam dan segudang pengalaman lainnya dalam sejarah pemerintahan Amerika sebenarnya jauh lebih baik dibanding Barrack Obama yang masih muda. Tapi, orang Amerika telah memilih Obama sebagai presiden mereka.

Saya bukan pendukung salah satu kandidat presiden AS, it’s not my business!! Hanya saja saya merasa salut dengan cara mereka dalam berpolitik. Mereka saling mengkritik dan saling menjelek2an selama kampanye. Masyarakat menjadi tahu kelebihan dan kekurangan masing2 kandidat. Tapi setelah Pemilu, mereka kembali bahu membahu sebagai sebuah bangsa.

Awal tulisan ini merupakan sari dari Pidato John McCain di Phoenix, Arizona setelah mengetahui hasil Pemilihan Presiden. Alangkah indahnya jika kita ikut belajar untuk berjiwa besar dalam menerima kekalahan, karena pada akhirnya memang hanya akan ada satu pemenang. Berbeda bukan berarti harus membenci dan menganggapnya lawan. Karena setiap kita punya cara dalam berpikir, bersikap dan merasakan sesuatu.

20
Sep

BITTE, Es wird vorbei

B.I.T.T.E bukan hanya sekedar magical word dalam bahasa jerman, tapi juga pernah menyelamatkan gw dari ketinggalan kereta dalam kondisi kepepet :) Dengan jumlah huruf sebanyak 5, B.I.T.T.E mungkin inisial yang pas untuk menggambarkan karakter gw dan temen2 senasib sepenanggungan di Marburg. Ada si B yang rajin menulis, I sang fotografer, T pertama yang g bisa hidup tanpa chating atau T kedua yang kemana2 suka bawa buku pelajaran serta E yang hobinya jalan2. Bersama, kami telah membuat banyak cerita unik di sini.

Menkonversi harga barang2 dari Euro ke dalam Rupiah, mengejar bus yang lagi berhenti di lampu merah, salah kostum, serta berbagai jetlag sosial lainnya mewarnai cerita pada minggu pertama kami. Selanjutnya, kami berusaha untuk mengenal budaya lokal dengan rajin ikutan nonton bareng tiap Jerman bertanding d EURO 2008. Setelah itu, kami pun mencari pengalaman baru dengan mengunjungi berbagai kota di Jerman dengan fasilitas wochenende ticket.

Berlin, Bonn, Cologne, Eisenach, Frankfurt, Heidelberg, Mainz, Muenchen, Postdam dan Weimar adalah deretan kota yang pernah kami kunjungi. Dua dari 12 stadion penyelenggara Piala Dunia 2006, Commerzbank dan Allianz Arena, pernah kami datangi. Schloss (castle) yang banyak mengundang wisatawan di Heidelberg, Muenchen dan Postdam pun tak luput dari tujuan kunjungan kami. Alhasil, folder yang berisi foto2 kami selama kurang dari 4 bulan sudah mencapai 4,67 GB. Aduh, narsis banget yach, tp gpp, biar eksis, hehehe…

Tapi bukan itu saja yang membuat semua terasa begitu mengesankan. Kebersamaan, mungkin itulah yang membuat gw happy di sini. Gw berkumpul ama temen2 yang mau bekerjasama dan berbagi tanggung jawab. Berbagi jadwal internet dan masak, bermalam d Banhhof yang dingin, atau terjebak dalam kereta yang berisi orang2 yang lagi mabuk adalah sedikit cerita yang bisa gw tulis di blog ini.

Tapi, sepuluh hari lagi B.I.T.T.E akan pergi meninggalkan kota di utara Frankfurt ini. Empat bulan cerita belajar bahasa jerman kami di kota berpenduduk 75.000an orang ini akan berakhir. Kami akan pergi ke universitas yang berbeda untuk mewujudkan cita masing2. Buat gw, Kiel adalah tujuan selanjutnya.

Berusaha untuk menjadikan setiap tempat sebagai rumah dan setiap orang sebagai teman, itulah cara gw menjalani hidup. Gw hanya berusaha untuk membuat hidup ini terasa nyaman dan penuh harapan. Gw gak mau memikirkan apa yang gak ada atau mengeluhkan keadaan yang gw terima. Semua adalah anugerah Tuhan, dan Dia akan selalu memberi yang terbaik sepanjang gw mau mensyukurinya.

Kawan, maap jika selama 4 bulan ini banyak kata ato sikap gw yang g berkenan. Terima kasih atas kerjasama dan semua canda selama ini, selamat jalan, selamat berjuang mewujudkan mimpi kalian. Let’s make our last days here as a happy ending story.

Kuteringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi, cinta…
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati, cinta…


Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya?
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu, cinta? (Letto, Sebelum Cahaya)


31
Aug

Rindu di Bulan Ramadhan

Ramadhan selalu memberi kesan yang istimewa. Bangun di pagi buta melawan kantuk untuk sahur, ngabuburit, buka puasa bareng, taraweh dan berbagai aktivitas lainnya membuat bulan ini terasa begitu bermakna. Tapi tahun ini tampaknya bakal memberi kesan yang sangat berbeda buat gw.

Tinggal di negara dimana muslim menjadi kaum minoritas membuat suasana Ramadhan terasa datar2 aja. Tak ada suara Adzan yang bersahutan atau siraman rohani yang melimpah ruah di televisi, jumlah jemaah tempat gw biasa jum’atan aja (and the only one in Marburg) masih lebih dikit dibanding jemaah di stasiun kereta Gambir. Waktu puasa pada awal Ramadhan pun akan lebih panjang, sekitar 15 jam.

Gw juga membayangkan suasana saat lebaran tiba. Menghabiskan waktu liburan bareng ade2-ku tersayang, kerja bakti bersiin rumah karena pembantu2 lagi pada mudik (aduh, jadi ingat ma2 yang suka ngomel2 karena ke-5 anaknya pada tidur di kamar masing2 biar gak kebagian kerja ;-), trus mudik ke Sumedang berkumpul ama keluarga besar Sudjiman, Ya Allah, I miss them

Tapi itu gak akan gw alami tahun ini, hiks, hiks, hiks…..Mungkin, di saat keluarga gw berkumpul bersama merayakan lebaran, gw akan sendirian di kereta menuju sebuah kota bernama Kiel, dengan barang bawaan yang lumayan berat. Pergi ke tempat yang gak pernah gw tahu, kecuali cerita tentang cuacanya yang ekstrim karena berada di tepi laut Baltik, untuk memulai perjuangan studi. Inilah harga yang harus gw bayar demi sebuah cita. When you want something, you must give something, that’s the rule!!!

Pa…Ma..,terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang telah kalian curahkan tanpa henti buat diriku sejak aku kecil. Kasih sayang, doa, nasehat dan dukungan dalam setiap langkah perjalanan hidupku. Sungguh, anakmu ini tak akan sanggup membalas jasa kalian. Maap tak banyak yang bisa anakmu sampaikan saat menelpon kalian kemarin. Lidah ini terlalu berat untuk berucap karena harus menahan airmata yang datang tanpa diundang. Maap untuk semua kesalahan yang telah membuat kalian kecewa, anakmu berjanji tuk selalu berusaha menjaga nama baik keluarga.

Istriku tercinta, maap jika mas tidak ada di samping yyg di Ramadhan dan lebaran pertama kita. It’s harder than what I’ve thought before. Apalagi jika mengingat bahwa kita memulai semuanya di bulan ini. Maap untuk semua kesalahan mas sebagai suami, juga manusia. Mungkin mas sering membuat yyg bersedih, tapi percayalah mas gak akan pernah berhenti untuk memperbaiki diri. Terima kasih untuk semua cinta dan pengertian yang selalu yyg beri.

Untuk Cita & Sudjiman family, ka2 rindu berkumpul bersama kalian. Selalu penuh canda dan tawa, serta tak pernah menyisakan ruang untuk bersedih. Terima kasih atas setiap lagu yang kalian beri pada show pertama band keluarga kita di acara nikahan ka2 kemaren. Tolong jangan ganti soundtrack “sebelum cahaya“ yang pernah mengiringi perjalanan kita dari Sumedang ke karaoke inul tahun lalu. Satu pesan ka2, jangan lupa bertamu ke “tetangga” kita di Darmaraja, sekalian nyicipin kue2 lebarannya.

Dear my GSI-er
friends, I miss the time when we play tennis and have lunch together at SariBundo. It’s a precious gift for me to have friends like you, guys. Let’s hold hand in hand and set our institute as a respectful organization, as we were dreaming of. Together, we can make it!!!

To all my friends…

Selamat menjalankan ibadah puasa,

Bilih aya ucap sereng tingkah nu ngagerat kana manah, hapunten anu kasuhun

Taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum

Marburg, den 01.Ramadhan.1429 H

17
Aug

Hiduplah Indonesia Raya

Bung Karno, founding father bangsa Indonesia. Selalu mengobarkan semangat revolusi, menentang kolonialisme dan imperialisme. Tokoh yang sangat berani memperjuangkan kehormatan bangsa, walau keluar masuk penjara menjadi konsekuensinya. Beliau berhasil memberikan kebanggaan pada eksistensi bangsa dan menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang disegani.

Bung Hatta, negarawan yang santun, jujur, dan hemat. Beliau tetap menjaga silaturahmi dengan Bung Karno saat mereka memiliki perbedaan pandangan politik. Dengan kemampuannya, rasanya tidak akan sulit bagi Bung Hatta menjadi orang yang kaya secara materi. Tetapi beliau lebih memikirkan citra sebagai wakil presiden dan memilih untuk hidup sederhana, demi nama baik bangsa dan negara.

Sudirman, jenderal pertama RI, saat berusia 31 tahun. Beliau merupakan contoh tentara teladan yang dimiliki bangsa ini. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, beliau tetap bergerilya melawan Belanda. Dalam keadaan sakit, beliau memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

R.A. Kartini, pejuang wanita Indonesia. Buku habis gelap terbitlah terang (Door Duistermis tox Licht), yang berisi kumpulan surat2 beliau menunjukkan besarnya keinginannya untuk melepaskan kaum wanita dari diskriminasi. Contoh ideal seorang wanita pejuang, istri dan ibu bagi bangsa Indonesia. Beliau meninggal saat melahirkan putra pertamanya.

W.R. Supratman, pencipta “Indonesia Raya”. Contoh seniman yang berkarya demi kekayaan budaya bangsa. Sayang, beliau meninggal pada 17 Agustus 1938, sebelum mendengar lagu ciptaannya dikumandangkan pada hari kemerdekaan negeri yang dicintainya.

Kiai Hasyim Asy’ari, ulama dan pendidik bangsa. Beliau adalah perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Merupakan tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Beliau tidak hanya mengajarkan agama dalam pesantren, tapi juga pengetahuan umum, organisasi dan pidato.

Abdul Muis, wartawan dan sastrawan bangsa. Beliau berjuang melawan Belanda melalui pena dan tulisan, merupakan salah satu tokoh lahirnya sekolah teknik di Indonesia, yang sekarang kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Karya sastra terkenal yang beliau hasilkan adalah “Salah Asuhan“.

Dott Sampurno, contoh ilmuwan yang menerapkan ilmu geologi teknik dalam berbagai bidang pembangunan. Bidang keilmuan yang berkaitan erat dengan teknik sipil, bencana alam dan lingkungan. Pengabdiannya dalam pemugaran Candi Borobudur membuat beliau menerima piagam penghargaan dan medali dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1983).

Masih banyak tokoh lain yang dimiliki bangsa ini. Mereka telah memberi mereka punya jiwa untuk ibu pertiwi. Semoga mereka mampu menginspirasi kita untuk berkarya demi negeri tercinta. Mengabdi bagi bangsa tidak harus menjadi presiden/pejabat, lakukan saja profesi yang anda jalani dengan benar. Berilah karya nyata bagi bangsa ini, bukan sekedar omong kosong seperti yang politisi kita sekarang lakukan. Menghabiskan uang negara untuk pemilu yang gak jelas konsepnya dan selalu dirubah2 seenak perutnya.

Terakhir, keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan meraih emas di Olimpiade Beijing 2008 merupakan kado indah bagi Indonesia yang hari ini merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-63. Terima kasih juga untuk Nova Widianto/Liliyana, Maria Kristin Yulianti, Triyatno, Eko Yuli Irawan. Terima kasih wahai pahlawan2 olahraga karena telah membuat lagu Indonesia Raya didengarkan oleh dunia

22
Jul

Saat pemula belajar menulis

Meine Ehefrau ist eine schone Frau. Sie ist immer positiv and oft sensitiv. Sie liebt den Berg zu gehen. Sie hat lange gewelte Haare, cremefarbene Haut, ein schones Gesicht und einen idealen Korper. Ihre Lieblingsfarbe ist gelb. Sie tragt oft eine gelbe Bluse mit einer braunen Hose.
Sie hat viele schuhe. Aber oft hat sie schwarze schuhe an. Jetzt lebt sie in Indonesien. Aber wir konnen internet fur unsere kommunikation benutzen. Es macht Deutschland und Indonesien Grenzenlos. Die schnelle Internetverbindung hilft uns. Vielen dank fur Internet.

My wife is a beautiful woman. She always think positive and sometimes sensitive. She likes to go to mountain. Her hair is curly, her skin is creamy yellow, she is good looking and has ideal body. Her favorite color is yellow. She used to wear yellow blouse with brown pants.
She has many shoes but she loves the black one. She lives in Indonesian now but we can communicate each other by Internet. It makes Germany and Indonesian become borderless. Internet facilities help us. Thank you for the internet. 

Hausaufgaben / PR selalu menemani hari-hari gw di sini. K’lo grammar sich gak terlalu masalah, tinggal ingat rumusnya, gw bisa ngerjain tanpa tahu apa artinya, hebat gak? (biasa, cenayang, he..he..) tapi k’lo sudah PR menulis, capek dech. Tulisan seperti diatas aja membutuhkan waktu sampe 1 jam, padahal sederhana banget. Guru gw di Goethe dulu selalu menyarankan untuk kreatif dalam mengarang, jangan terlalu banyak pake ich (saya-red). Gimana Frau Dessy? Udah gak ada ich lagi khan, sebagai gantinya saya pake sie. Gak monoton khan?

Menulis bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi gak mudah untuk dilakukan, (jadi gampang atau susah? Egal dech…),. “Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!…”, barangkali itulah salah satu ungkapan yang muncul saat seseorang berhadapan dengan suatu tugas yang mewajibkannya untuk menulis.

Menulis memang membutuhkan bakat, tapi bakat bukan segalanya. Kemampuan ini banyak ditentukan kebiasaan. Mulailah untuk menuliskan apa yang kita lihat, dengar, rasakan atau pikirkan. Bukankah peristiwa yang kita alami setiap hari adalah rangkaian narasi kehidupan? Tuangkanlah dalam sebuah teks, sesuai dengan kepribadian masing-masing. Jangan terjebak dengan gaya tulisan orang lain (penulis ternama sekalipun) sebab akan membuat menulis terasa berat karena tidak sesuai dengan karakter asli kita.

Tidak ada hal yang mustahil untuk dikerjakan ketika kita mau berusaha. Kita adalah apa yang kita pikirkan (makanya gw selalu berpikir -dan ngaku- k’lo gw ganteng dan pinter, biar jadi kenyataan..,alah…).
Mulailah menulis, sesederhana dan sekecil apapun itu, jika kita meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri kita.

* terimakasih buat Bu Dwi dan Ayu yang telah mengajariku menulis di IEDUC dulu. Thanks to encourage me to believe that I can do this.

26
Jun

Hitam, Merah dan Kuning

Deutschland, tet..tet..tet..
Deutschland, tet..tet..tet..
Deutschland, tet..tet..tet..

Demikianlah suasana di Fun Arena, Frankfurterstrase,Marburg. Kami berteriak bersama suporter jerman lainnya mendukung tim jerman di Euro 2008, Austria - Swiss. Kedua negara ini berbatasan langsung dengan jerman bagian selatan. Klub terkenal yang berasal dari daerah ini adalah Bayern Munich.

Penduduk jerman sangat bangga dengan tim nasionalnya, apalagi setelah berhasil menembus final. Mereka menyaksikan setiap pertandingan yang dilakoni Michael Ballack dkk di rumah atau tempat2 umum, sambil memegang segelas bir di tangannya. Yel2 dan nyanyian terdengar sepanjang pertandingan, pokoknya rame banget dech. Jika menang, konvoi pun dilakukan. Pernah saat pulang dari pertandingan melawan Austria, bus dicegat oleh pendukung jerman yang lagi mabuk. Untung jumlahnya belum terlalu banyak, jadi bus kami hanya di gedor2 kacanya saja. Begitulah cara penduduk sini menikmati pertandingan sepakbola.

Sudah lama rasanya gak ikutan acara nonton bareng. Pas di Bandung dulu gw biasa nonton di Terazza, markas bigreds bandung. Tapi sejak menikah, udah gak pernah ikutan lagi, maklum ada “kerjaan” lain. Untuk kota kecil seperti Marburg, dimana KFC aja gak ada, bendera berwarna hitam, merah dan kuning lumayan banyak terpasang di mobil2 dan apartemen2. Di kota ini, gw lg kursus bahasa jerman bareng Trio UI (Arli, Lita und Vera) + Hawis dari IPB. Ternyata, menggunakan 3 bahasa tiap hari ternyata lumayan membingungkan juga. Gw make bahasa indonesia untuk berkomunikasi ama temen2 dari indo, bahasa inggris ama orang2 yang gak bisa bahasa jerman. Dan bahasa jerman selama di kursus + jika pengen nanya ato ditanya ama orang jerman.

Tiga minggu sudah gw beradaptasi dengan kebiaasaan baru. Waktu malam yang pendek, karena lagi summer, lumayan merubah jam biologi gw. Waktu shalat shubuh pada saat ini rata-rata jam 3 pagi, sedangkan Maghrib sekitar 21.30. Cuaca pun gampang berubah, pernah pada suatu pagi suhu hanya 12oC dan hujan, tapi pada siangnya naik hingga mencapai 280C. So, di saat penduduk lokal mamakai pakaian tipis, gw berjalan di siang yang terik dengan kostum rangkap 3, bawa payung lagi.

Pola makan pun ikut berubah, sarapan gw isi ama roti/kentang goreng/apel/pisang + susu. Harga 1L susu hanya separuh harga bensin di sini lho. Makan siang di Mensa (kantin buat pelajar) adalah pilihan yang paling mudah. Menu umumnya adalah 1mangkuk kentang, 1 piring ayam/ikan/daging sapi, 1 mangkuk salat/yoghurt/puding dan 1 gelas susu/coklat gratis!!. Untuk makan malam, gw makan pake nasi dengan lauk makanan cepat saji. Maklum, kokinya adalah 3 cowok tanpa pengalaman kerja di restoran. Akhirnya fast food adalah pilihan paling pas. Gw, Arli dan Hawis dapet giliran masak tiap malem. Ntar pulang dari Jerman mungkin kami bisa nyoba nyambi jadi chef dech..

09
Jun

Because life is a journey…

Pindah dari satu kota ke kota lain sepertinya sudah menjadi jalan hidupku. Sepuluh tahun sejak mempunyai hak untuk memiliki KTP/SIM, aku sudah mengoleksi 7 ID dari 7 kota yang berbeda, Majalengka, Bogor, Yogya, Sleman, Bandung, Pekanbaru dan Indramayu. Dan ID-ID itu tidak sempat diperpanjang karena sebelum masa berlakunya habis, aku sudah pindah ke kota yang lain. Dan tampaknya sejarah itu akan berlanjut tahun ini, saat masa berlaku SIM-ku habis ketika aku berada di Jerman.

Sabtu, 31 Mei 2008 merupakan hari keberangkatanku menuju negara dengan luas sekitar 2X pulau Jawa ini. Pesawat EY 471 telah membawaku dan 13 orang penerima beasiswa DAAD lainnya pergi meninggakan Jakarta pada pukul 15.15 dan mendarat di Frankfurt Jam 6.20 waktu setempat (jam 11.20 WIB). Perjalanan kemudian berlanjut dengan Kereta menuju Kota Marburg, 70 Km di Utara Frankfurt.

Tak terasa sudah seminggu diriku tinggal di negara orang. Ada banyak hal baru yang aku lihat dan rasakan. Tapi satu hal yang sangat berkesan buatku yaitu masyarakat di sini begitu mandiri. Pada awal tiba di Jerman, aku harus membawa sendiri koper seberat 27 kilo dan 2 tas punggung masing-masing seberat 6 kilo karena tidak ada porter. K’lo makan di tempat umum, aku harus mengembalikan piring/gelas/sendok ke tempat yang telah disediakan agar setelah makan meja tetap bersih.

Belanja di supermarket pun harus membawa tas/plastik sendiri, k’lo pake punya supermarket kena biaya € 0,6. Tak ada kondektur di bus atau polisi yang berada di jalanan. Tapi anehnya, saat ada kecelakaan tiba2 semua petugas yang bertanggung jawab seperti polisi/tenaga medis sudah ada di lokasi dalam waktu kurang dari 5 menit!!

Semua berjalan dengan sangat efektif karena setiap penduduk bertanggung jawab atas kebersihan dan ketertiban umum. Selain itu, orang-orang cacat bisa menikmati fasilitas umum dengan fasilitas khusus, ada penghargaan terhadap orang-orang dengan keterbatasan  fisik.

Tetapi diantara pengalaman baru ini kadang terselip rasa rindu terhadap tanah air. Waktu siang yang lebih lama dibanding malam masih terasa aneh bagiku, matahari terbit sekitar jam 4-an dan terbenam sekitar jam 22.00. Cuaca sangat fluktuatif, tiba2 panas, tiba2 dingin. Perut rasanya masih merasa asing dengan sarapan dan makan siang selain nasi.

Rasa rindu keluarga dan istri pun kadang datang menyelimuti. Tak ada lagi istri yang menawarkan makan sebelum diriku lapar atau memijat saat tubuh terasa pegal. Tapi aku percaya, all at the beginning are hard. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Setelah itu, semuanya akan kembali terasa normal.

Tuhan, terima kasih untuk semua anugerah yang telah Engkau berikan. Terima kasih telah banyak menunjukkan aneka warna dan perbedaan dalam perjalanan hidup ku. Semoga perjalanan ini menjadi jalan bagi diriku untuk menjadi orang
yang lebih bijak dalam menjalani hidup.

Setiap orang punya cara dalam menjalani dan memaknai hidup. Bagi diriku, hidup bukan sekedar masalah benar atau salah saja karena itu akan tergantung dari sudut pandang dan kepentingan. Hidup adalah bagaimana bisa mengerti dan menghargai orang lain dengan tidak mengabaikan prinsip hidup sendiri. Mampu merasakan apa yang orang lain pikirkan atau memikirkan apa yang orang lain rasakan. Semoga…