Malam itu (16.01.09), kami (PPI Kiel) mendapat undangan makan malam dari DIG (perkumpulan Indonesia Jerman) yang ada di kota Kiel. Sebagai bentuk penghargaan, kami pun sepakat untuk menampilkan cerita wayang dalam pertemuan tersebut. Kami beruntung karena memiliki teman berinisial AW yang bisa menjadi dalang. Gw g menulis lengkap nama sang dalang, karena belum meminta izin saat menulis blog ini
Tokoh utama dalam cerita adalah Petruk, seorang tokoh punakawan dalam wayang jawa. Malam itu, sang dalang menceritakan tentang cita2 sang tokoh yang bermimpi untuk menjadi orang mulia. Untuk meraihnya, dia pun pergi untuk menuntut ilmu ke sebuah tempat bernama Kiel. Singkat cerita, Petruk pun berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat Cumlaude.
Walau bekerja dengan persiapan yang mepet, script aja baru bisa gw selesain tanggal 16 pagi, kami bersyukur karena semuanya berjalan lancar.Gw jadi teringat dengan seorang nenek jerman yang pernah gw temui di stasiun kereta. Tiba2 dia menyapa dan menanyakan asal gw. Dan saat tahu klo gw adalah orang indo, dengan bangganya dia pun mulai bercerita tentang pengalaman dan kekagumannya akan Indonesia. Gw jadi mikir, klo orang asing aja bisa menghargai keindahan dan budaya Indonesia, masa sie orang aslinya enggak.
Sesuatu akan sering terasa berarti saat sesuatu itu tiada. Saat tinggal di negeri orang seperti sekarang, rasa bangga akan tanah air menjadi bertambah. Hingga pada suatu hari yang dingin, seorang kawan menyanyikan lagu “Tanah airku” dalam perjalanan pulang. Suaranya memang cempreng, tapi hal itu tidak mengurangi rasa yang terkandung di dalam syairnya:
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biar pun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri kujalani
Termashsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan….(tanah air, cipt. Ibu Soed)